Kanker servik jadi pembunuh wanita

Tahukah Anda, bahwa dalan setiap jam wanita di Indonesia meninggal akibat kanker serviks atau lebih dikenal dengan kanker mulut rahim. Bahkan dalam setiap menit wanita di seluruh dunia meninggal karna kanker yang mematikan ini.

Beda Hormon LH dan FSH

FSH dan LH yang diproduksi oleh kelenjar hipofisis anterior, sebuah kelenjar kecil yang hadir di bagian bawah otak. FSH pada dasarnya menyebabkan pematangan sel telur di dalam folikel dalam tubuh wanita.

Manfaat Bawang Putih

Khasiat atau manfaat bawang putih ternyata tidak hanya untuk menyedapkan atau sebagai bumbu masakan saja, namun ternyata banyak hal lain yg dapat di manfaatkan dari bawang puth tersebut terutamanya untuk dunia kesehatan.

Toko Kayumanis

Selamat datang di Toko Kayumanis version Online Shop Kami menjual T-shirt, kaos oblong dan jaket T-shirt, kaos oblong dan jaket yang kami jual menggunakan bahan yang berkualitas tinggi, kelebihan dari T-shirt, kaos oblong dan jaket di Toko kami dapat anda tentukan sendiri desainnya, pola ataupun grafisnya sesusai keinginan anda sehingga dapat dipastikan tidak ada T-shirt, kaos oblong dan jaket dari Toko kami yang mempunyai motif yang sama.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 31 Maret 2014

BILIRUBIN DIREK

Bilirubin terkonjugasi /direk adalah bilirubin bebas yang bersifat larut
dalam air sehingga dalam pemeriksaan mudah bereaksi. Bilirubin terkonjugasi
(bilirubin glukoronida atau hepatobilirubin ) masuk ke saluran empedu dan
diekskresikan ke usus. Selanjutnya flora usus akan mengubahnya menjadi
urobilinogen.

Bilirubin terkonjugasi bereaksi cepat dengan asam sulfanilat yang
terdiazotasi membentuk azobilirubin. Peningkatan kadar bilirubin direk atau
bilirubin terkonjugasi dapat disebabkan oleh gangguan ekskresi bilirubin
intrahepatik antara lain Sindroma Dubin Johson dan Rotor, Recurrent (benign)
intrahepatic cholestasis, Nekrosis hepatoseluler, Obstruksi saluran empedu.
Diagnosis tersebut diperkuat dengan pemeriksaan urobilin dalam tinja dan urin
dengan hasil negatif.


Posted via Blogaway

Minggu, 30 Maret 2014

Bilirubin Total

Bilirubin adalah pigmen kuning yang berasal dari perombakan heme dari
hemoglobin dalam proses pemecahan eritrosit oleh sel retikuloendotel. Di
samping itu sekitar 20% bilirubin berasal dari perombakan zat-zat lain. Sel
retikuloendotel membuat bilirubin tidak larut dalam air, bilirubin yang
disekresikan dalam darah harus diikatkan albumin untuk diangkut dalam
plasma menuju hati.

Bilirubin merupakan suatu senyawa tetrapirol yang dapat larut dalam
lemak maupun air yang berasal dari pemecahan enzimatik gugus heme dari
berbagai heme protein seluruh tubuh. Sebagian besar ( kira- kira 80 % )
terbentuk dari proses katabolik hemoglobin, dalam proses penghancuran
eritrosit oleh RES di limpa, dan sumsum tulang. Disamping itu sekitar 20 % dari
bilirubin berasal dari sumber lain yaitu non heme porfirin, prekusor pirol dan
lisis eritrosit muda. Dalam keadaan fisiologis pada manusia dewasa, eritrosit
dihancurkan setiap jam. Dengan demikian bila hemoglobin dihancurkan dalam
tubuh, bagian protein globin dapat dipakai kembali baik sebagai protein globin
maupun dalam bentuk asam- asam aminonya.

Metabolisme bilirubin diawali dengan reaksi proses pemecahan heme
oleh enzim hemoksigenase yang mengubah biliverdin menjadi bilirubin oleh
enzim bilirubin reduksitase. Sel retikuloendotel membuat bilirubin tak larut air,
bilirubin yang sekresikan ke dalam darah diikat albumin untuk diangkut dalam
plasma. Hepatosit adalah sel yang dapat melepaskan ikatan, dan
mengkonjugasikannya dengan asam glukoronat menjadi bersifat larut dalam air.
Bilirubin yang larut dalam air masuk ke dalam saluran empedu dan
diekskresikan ke dalam usus . Didalam usus oleh flora usus bilirubin diubah
menjadi urobilinogen yang tak berwarna dan larut air, urobilinogen mudah
dioksidasi menjadi urobilirubin yang berwarna. Sebagian terbesar dari
urobilinogen keluar tubuh bersama tinja, tetapi sebagian kecil diserap kembali
oleh darah vena porta dikembalikan ke hati. Urobilinogen yang demikian
mengalami daur ulang, keluar lagi melalui empedu. Ada sebagian kecil yang
masuk dalam sirkulasi sistemik, kemudian urobilinogen masuk ke ginjal dan
diekskresi bersama urin


Posted via Blogaway

Bilirubin Total

Bilirubin adalah pigmen kuning yang berasal dari perombakan heme dari
hemoglobin dalam proses pemecahan eritrosit oleh sel retikuloendotel. Di
samping itu sekitar 20% bilirubin berasal dari perombakan zat-zat lain. Sel
retikuloendotel membuat bilirubin tidak larut dalam air, bilirubin yang
disekresikan dalam darah harus diikatkan albumin untuk diangkut dalam
plasma menuju hati.

Bilirubin merupakan suatu senyawa tetrapirol yang dapat larut dalam
lemak maupun air yang berasal dari pemecahan enzimatik gugus heme dari
berbagai heme protein seluruh tubuh. Sebagian besar ( kira- kira 80 % )
terbentuk dari proses katabolik hemoglobin, dalam proses penghancuran
eritrosit oleh RES di limpa, dan sumsum tulang. Disamping itu sekitar 20 % dari
bilirubin berasal dari sumber lain yaitu non heme porfirin, prekusor pirol dan
lisis eritrosit muda. Dalam keadaan fisiologis pada manusia dewasa, eritrosit
dihancurkan setiap jam. Dengan demikian bila hemoglobin dihancurkan dalam
tubuh, bagian protein globin dapat dipakai kembali baik sebagai protein globin
maupun dalam bentuk asam- asam aminonya.

Metabolisme bilirubin diawali dengan reaksi proses pemecahan heme
oleh enzim hemoksigenase yang mengubah biliverdin menjadi bilirubin oleh
enzim bilirubin reduksitase. Sel retikuloendotel membuat bilirubin tak larut air,
bilirubin yang sekresikan ke dalam darah diikat albumin untuk diangkut dalam
plasma. Hepatosit adalah sel yang dapat melepaskan ikatan, dan
mengkonjugasikannya dengan asam glukoronat menjadi bersifat larut dalam air.
Bilirubin yang larut dalam air masuk ke dalam saluran empedu dan
diekskresikan ke dalam usus . Didalam usus oleh flora usus bilirubin diubah
menjadi urobilinogen yang tak berwarna dan larut air, urobilinogen mudah
dioksidasi menjadi urobilirubin yang berwarna. Sebagian terbesar dari
urobilinogen keluar tubuh bersama tinja, tetapi sebagian kecil diserap kembali
oleh darah vena porta dikembalikan ke hati. Urobilinogen yang demikian
mengalami daur ulang, keluar lagi melalui empedu. Ada sebagian kecil yang
masuk dalam sirkulasi sistemik, kemudian urobilinogen masuk ke ginjal dan
diekskresi bersama urin


Posted via Blogaway

Sabtu, 29 Maret 2014

Cholinesterase (CHE)

Merupakan enzim hati yang dipergunakan untuk membantu
menentukan apakah fungsi sintesis dari hati masih baik atau
tidak. Bila kadar CHE menurun, berarti ada gangguan fungsi hati.

Cholinesterase atau disebut enzim asetylcholinesterase adalah suatu
enzim yang terdapat didalam membran sel terminal syaraf kolinergik juga pada
membran lainnya, seperti dalam plasma darah, sel plasenta yang berfungsi
sebagai katalis untuk menghidrolisis acetylcholine menjadi choline dan acetat.
Acetylcholine adalah suatu agen yang terdapat dalam fraksi ujung syaraf dari
sistem syaraf yang akan menghambat penyebaran impuls dari neuron ke post
ganglionik.

Cholinesterase disintesis didalam hati atau liver, terdapat dalam sinaps,
plasma darah dan sel darah merah. Sekurang- kurangnya ada 3 jenis
cholinesterase utama, yaitu enzim cholinesterase yang terdapat dalam sinaps,
cholinesterase dalam plasma, dan cholinesterase dalam sel darah merah.
Cholinesterse sel darah merah merupakan enzim yang ditemukan dalam sistem
syaraf, sedangkan cholinesterase plasma diproduksi didalam hati.
Cholinesterase dalam darah umumnya digunakan sebagai parameter keracunan
pestisida, karena cara ini lebih mudah dibandingkan pengukuran cholinesterase
dalam sinaps.


Posted via Blogaway

Jumat, 28 Maret 2014

Fosfatase Alkali ( ALP )

Fosfatase alkali (alkaline phosphatase, ALP) merupakan enzim yang diproduksi
terutama oleh epitel hati dan osteoblast (sel-sel pembentuk tulang baru); enzim
ini juga berasal dari usus, tubulus proksimalis ginjal, plasenta dan kelenjar susu
yang sedang membuat air susu. Fosfatase alkali disekresi melalui saluran
empedu. Meningkat dalam serum apabila ada hambatan pada saluran empedu
(kolestasis). Tes ALP terutama digunakan untuk mengetahui apakah terdapat
penyakit hati (hepatobiliar) atau tulang.

Pada orang dewasa sebagian besar dari kadar ALP berasal dari hati, sedangkan
pada anak-anak sebagian besar berasal dari tulang. Jika terjadi kerusakan
ringan pada sel hati, mungkin kadar ALP agak naik, tetapi peningkatan yang
jelas terlihat pada penyakit hati akut. Begitu fase akut terlampaui, kadar serum
akan segera menurun, sementara kadar bilirubin tetap meningkat. Peningkatan
kadar ALP juga ditemukan pada beberapa kasus keganasan (tulang, prostat,
payudara) dengan metastase dan kadang-kadang keganasan pada hati atau
tulang tanpa matastase (isoenzim Regan).

Kadar ALP dapat mencapai nilai sangat tinggi (hingga 20 x lipat nilai normal)
pada sirosis biliar primer, pada kondisi yang disertai struktur hati yang kacau
dan pada penyakit-penyakit radang, regenerasi, dan obstruksi saluran empedu
intrahepatik. Peningkatan kadar sampai 10 x lipat dapat dijumpai pada
obstruksi saluran empedu ekstrahepatik (misalnya oleh batu) meskipun
obstruksi hanya sebagian. Sedangkan peningkatan sampai 3 x lipat dapat
dijumpai pada penyakit hati oleh alcohol, hepatitis kronik aktif, dan hepatitis
oleh virus.

Pada kelainan tulang, kadar ALP meningkat karena peningkatan aktifitas
osteoblastik (pembentukan sel tulang) yang abnormal, misalnya pada penyakit
Paget. Jika ditemukan kadar ALP yang tinggi pada anak, baik sebelum maupun
sesudah pubertas, hal ini adalah normal karena pertumbuhan tulang (fisiologis).
Elektroforesis bisa digunakan untuk membedakan ALP hepar atau tulang.
Isoenzim ALP digunakan untuk membedakan penyakit hati dan tulang; ALP1
menandakan penyakit hati dan ALP2 menandakan penyakit tulang.
Jika gambaran klinis tisak cukup jelas untuk membedakan ALP hati dari
isoenzim-isoenzim lain, maka dipakai pengukuran enzim-enzim yang tidak
dipengaruhi oleh kehamilan dan pertumbuhan tulang. Enzim-enzim itu adalah :
5’nukleotidase (5’NT), leusine aminopeptidase (LAP) dan gamma-GT. Kadar
GGT dipengaruhi oleh pemakaian alcohol, karena itu GGT sering digunakan
untuk menilai perubahan dalam hati oleh alcohol daripada untuk pengamatan
penyakit obstruksi saluran empedu.


Posted via Blogaway

Rabu, 26 Maret 2014

Gamma Glutamil Transferase (GGT)

Gamma-glutamil transferase ( gamma-glutamyl transferase , GGT) adalah enzim
yang ditemukan terutama di hati dan ginjal, sementara dalam jumlah yang
rendah ditemukan dalam limpa, kelenjar prostat dan otot jantung. Gamma-GT
merupakan uji yang sensitif untuk mendeteksi beragam jenis penyakit parenkim
hati. Kebanyakan dari penyakit hepatoseluler dan hepatobiliar meningkatkan
GGT dalam serum. Kadarnya dalam serum akan meningkat lebih awal dan tetap
akan meningkat selama kerusakan sel tetap berlangsung.

GGT adalah salah satu enzim mikrosomal yang bertambah banyak pada
pemakai alkohol, barbiturat, fenitoin dan beberapa obat lain tertentu. Alkohol
bukan saja merangsang mikrosoma memproduksi lebih banyak enzim, tetapi
juga menyebabkan kerusakan hati, meskipun status gizi peminum itu baik.
Kadar GGT yang tinggi terjadi setelah 12-24 jam bagi orang yang minum alkohol
dalam jumlah yang banyak, dan mungkin akan tetap meningkat selama 2-3
minggu setelah asupan alkohol dihentikan. Tes gamma-GT dipandang lebih
sensitif daripada tes fosfatase alkalis ( alkaline phosphatase , ALP).


Posted via Blogaway

Selasa, 25 Maret 2014

SGPT (Serum Glutamic Pyruvic Transaminase)

SGPT atau juga dinamakan ALT ( alanin aminotransferase) merupakan enzim
yang banyak ditemukan pada sel hati serta efektif untuk mendiagnosis destruksi
hepatoseluler. Enzim ini dalam jumlah yang kecil dijumpai pada otot jantung,
ginjal dan otot rangka. Pada umumnya nilai tes SGPT/ALT lebih tinggi daripada
SGOT/AST pada kerusakan parenkim hati akut, sedangkan pada proses kronis
didapat sebaliknya.

Kondisi yang meningkatkan kadar SGPT/ALT adalah :
Peningkatan SGOT/SGPT > 20 kali normal : hepatitis viral akut, nekrosis hati (toksisitas obat atau kimia)
Peningkatan 3-10 kali normal : infeksi mononuklear, hepatitis kronis aktif, sumbatan empedu ekstra hepatik, sindrom Reye, dan infark miokard (SGOT>SGPT)
Peningkatan 1-3 kali normal : pankreatitis, perlemakan hati, sirosis Laennec, sirosis biliaris.


Posted via Blogaway

Senin, 24 Maret 2014

SGOT (Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase)

SGOT atau juga dinamakan AST ( Aspartat aminotransferase ) merupakan enzim
yang dijumpai dalam otot jantung dan hati, sementara dalam konsentrasi
sedang dijumpai pada otot rangka, ginjal dan pankreas. Konsentrasi rendah
dijumpai dalam darah, kecuali jika terjadi cedera seluler, kemudian dalam jumlah
banyak dilepaskan ke dalam sirkulasi. Pada infark jantung, SGOT/AST akan
meningkat setelah 10 jam dan mencapai puncaknya 24-48 jam setelah
terjadinya infark. SGOT/AST akan normal kembali setelah 4-6 hari jika tidak
terjadi infark tambahan.
Pada penyakit hati, kadarnya akan meningkat 10 kali lebih dan akan tetap
demikian dalam waktu yang lama.
SGOT/AST serum umumnya diperiksa secara fotometri atau spektrofotometri,
semi otomatis menggunakan fotometer atau spektrofotometer, atau secara
otomatis menggunakan chemistry analyzer.

Kondisi yang meningkatkan kadar SGOT/AST :

Peningkatan tinggi ( > 5 kali nilai normal) : kerusakan hepatoseluler akut, infark miokard, kolaps sirkulasi, pankreatitis akut, mononukleosis infeksiosa
Peningkatan sedang ( 3-5 kali nilai normal ) : obstruksi saluran empedu, aritmia jantung, gagal jantung kongestif, tumor hati (metastasis atau primer), distrophia muscularis
Peningkatan ringan ( sampai 3 kali normal ) : perikarditis, sirosis, infark paru, delirium tremeus, cerebrovascular accident (CVA)


Posted via Blogaway

Sabtu, 22 Maret 2014

Pemeriksaan Kimia Darah.


Pemeriksaan jenis ini bertujuan mengukur kadar parameter kimiawi dalam
darah kita, parameter yang diperiksa bisa digolongkan dalam beberapa
kategori sesuai dengan diagnosa penyakit yang diderita pasien. Dalam
menjalankan fungsi metabolisme, organ tubuh seperti jantung, hati, ginjal dll
senantiasa memerlukan/mengeluarkan zat-zat kimiawi dalam jumlah
tertentu, jika suatu ketika kadar zat-zat kimiawi meningkat atau menurun
diluar batas normal maka hal ini menandakan bahwa organ tubuh sedang
mengalami masalah.
Pemeriksaan kimia klinik biasanya di bagi menjadi beberapa panel fungsi
-. Fungsi hati
-. Panel lemak
-. Fungsi jantung
-. Fungsi ginjal
-. Panel diabetes
-. Panel elektrolit
-. Panel gas darah
-. Panel antioksidan
-. Panel protein


Posted via Blogaway

Jumat, 21 Maret 2014

Teknik ELISA


Sejarah Penemuan
         Teknik ELISA pertama kali diperkenalkan pada tahun 1971 oleh Peter Perlmann dan Eva Engvall. Mereka menggunakan teknik ELISA ini dalam bidang imunologi  (ELISA konvensional) untuk menganalisis interaksi antara antigen dan antibodi di dalam suatu sampel, dimana interaksi tersebut ditandai dengan menggunakan suatu enzim yang berfungsi sebagai pelopor/ reporter/ signal.
         Dalam perkembangan selanjutnya, selain digunakan sebagai uji kualitatif untuk mengetahui keberadaan suatu antibodi atau antigen dengan menggunakan antibodi atau antigen spesifik, teknik ELISA juga dapat diaplikasikan dalam uji kuantitatif untuk mengukur kada antibodi atau antigen yang diuji dengan menggunakan alat bantu erupa spektrofotometer atau dengan cara menetukan jumlah penambahan atau kadar antibodi atau antigen, sehingga dapat dibuat suatu kurva standard an kadar antibodi atau antigen yang tidak diketahui dapat ditentukan.

Prinsip Dasar Teknik ELISA
Prinsip dasar dari teknik ELISA ini secara simple dapat dijabarkan sebagai berikut :
Pertama antigen atau antibodi yang hendak diuji ditempelkan pada suatu permukaan yang berupa microtiter. Penempelan tersebut dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu penempelan secara non spesifik dengan adsorbs ke permukaan microtiter, dan penempelan secara spesifik dengan menggunakan antibody atau antigen lain yang bersifat spesifik dengan antigen atau antibodi yang diuji (cara ini digunakan pada teknik ELISA sandwich). Selanjutnya antibodi atau antigen spesifik yang telah ditautkan dengan suatu enzim signal (disesuaikan dengan sampel => bila sampel berupa antigen, maka digunakan antibodi spesifik , sedangkan bila sampel berupa antibodi, maka digunakan antigen spesifik) dicampurkan ke atas permukaan tersebut, sehingga dapat terjadi interaksi antara antibodi dengan antigen yang bersesuaian. Kemudian ke atas permukaan tersebut dicampurkan suatau substrat yang dapat bereaksi dengan enzim signal. Pada saat substrat tersebut dicampurkan ke permukaan, enzim yang bertaut dengan antibodi atau antigen spesifik yang berinteraksi dengan antibodi atau antigen sampel akan bereaksi dengan substrat dan menimbulkan suatu signal yang dapat dideteksi. Pda ELISA flourescense misalnya, enzim yang tertaut dengan antibodi atau antigen spesifik akan bereaksi dengan substrat dan menimbulkan signal yang berupa pendaran flourescense.

Kelebihan dn Kelemahan Teknik ELISA
Teknik ELISA ini memiliki beberapa kelebihan, antara lain :
-.Teknik pengerjaan relatif sederhana
-.Relatif ekonomis (karena jenis a antibodi yang digunakan hanya satu saja, sehingga menghemat biaya untuk membeli banyak jenis antibodi)
-.Hasil memiliki tingkat sensitivitas yang cukup tinggi.
-.Dapat digunakan untuk mendeteksi keberadaan antigen walaupun kadar antigen tersebut sangat rendah (hal ini disebabkan sifat interaksi antara antibodi atau antigen yang bersifat sangat spesifik)
-.Dapat digunakan dalam banyak macam pengujian.

Sedangkan kekurangan dari teknik ELISA antara lain :
-.Jenis antibodi yang dapat digunakan pada uji dengan teknik ELISA ini hanya jenis antibodi monoklonal (antibodi yang hanya mengenali satu antigen)
-.Harga antibodi monoklonal relatif lebih mahal daripada antibodi poliklonal, sehingga pengujian teknik ELISA ini membutuhkan biaya yang relatif mahal.
-.Pada beberapa macam teknik ELISA, dapat terjadi kesalahan pengujian akibat kontrol negatif yang menunjukkan respons positif yang disebabkan inefektivitas dari larutan blocking sehingga antibodi sekunder atau antigen asing dapat berinteraksi dengan antibodi bertaut enzim signal dan menimbulkan signal.
-.Reaksi antara enzim signal dan substrat berlangsung relatif cepat, sehingga pembacaan harus dilakukan dengan cepat (pada perkembangannya, hal ini dapat diatasi dengan memberikan larutan untuk menghentikan reaksi).


Posted via Blogaway

Kamis, 20 Maret 2014

TORCH yaitu TOxoplasma, Rubella, Cytomegalovirus dan Herpes

TORCH adalah istilah untuk menggambarkan gabungan dari empat jenis penyakit infeksi yaitu TOxoplasma, Rubella, Cytomegalovirus dan Herpes. Keempat jenis penyakti infeksi ini, sama-sama berbahaya bagi janin bila infeksi diderita oleh ibu hamil. Kini, diagnosis untuk penyakit infeksi telah berkembang antar lain ke arah pemeriksaan secara imunologis. Prinsip dari pemeriksaan ini adalah deteksi adanya zat anti (antibodi) yang spesifik taerhadap kuman penyebab infeksi tersebut sebagai respon tubuh terhadap adanya benda asing (kuman. Antibodi yang terburuk dapat berupa Imunoglobulin M (IgM) dan Imunoglobulin G (IgG) TOXOPLASMA Infeksi Toxoplasma disebabkan oleh parasit yang disebut Toxoplasma gondi. Pada umumnya, infeksi Toxoplasma terjadi tanpa disertai gejala yang spesipik. Kira-kira hanya 10-20% kasus infeksi. Toxoplasma yang disertai gejala ringan, mirip gejala influenza, bisa timbul rasa lelah, malaise, demam, dan umumnya tidak menimbulkan masalah. Infeksi Toxoplasma berbahaya bila terjadi saat ibu sedang hamil atau pada orang dengan sistem kekebalan tubuh terganggu (misalnya penderita AIDS, pasien transpalasi organ yang mendapatkan obat penekan respon imun). Jika wanita hamil terinfeksi Toxoplasma maka akibat yang dapat terjadi adalah abortus spontan atau keguguran (4%), lahir mati (3%) atau bayi menderita Toxoplasmosis bawaan. pada Toxoplasmosis bawaan, gejala dapat muncul setelah dewasa, misalnya kelinan mata dan telinga, retardasi mental, kejang-kejang dn ensefalitis. Diagnosis Toxoplasmosis secara klinis sukar ditentukan karena gejala-gejalanya tidak spesifik atau bahkan tidak menunjukkan gejala (sub klinik). Oleh karena itu, pemeriksaan laboratorium mutlak diperlukan untuk mendapatkan diagnosis yang tepat. Pemeriksaan yang lazim dilakukan adalah Anti-Toxoplasma IgG, IgM dan IgA, serta Aviditas Anti-Toxoplasma IgG. Aviditas anti-Toxoplasma IgG merupakan kekuatan ikatan antara anti- Toxoplasma IgG dengan parasit Toxoplasma gondii. Pemeriksaan aviditas anti- Toxoplasma IgG diperlukan apabila ada dugaan terjadi infeksi Toxoplasma (ditandai dengan Toxoplasma IgG & IgM positif) pada ibu hamil untuk memperkirakan kapan infeksi terjadi. Manfaat Pemeriksaan : Untuk mengetahui apakah infeksi Toxoplasma baru terjadi ataukah telah lama terjadi, terutama pada masa kehamilan. Pemeriksaan tersebut perlu dilakukan pada orang yang diduga terinfeksi Toxoplasma, ibu-ibu sebelum atau selama masa hamil (bila hasilnya negatif pelu diulang sebulan sekali khususnya pada trimester pertma, selanjutnya tiap trimeter), serta bayi baru lahir dari ibu yang terinfeksi Toxoplasma. RUBELLA Infeksi Rubella ditandai dengan demam akut, ruam pada kulit dan pembesaran kelenjar getah bening. Infeksi ini disebabkan oleh virus Rubella, dapat menyerang anak-anak dan dewasa muda. Infeksi Rubella berbahaya bila tejadi pada wanita hamil muda, karena dapat menyebabkan kelainan pada bayinya. Jika infeksi terjadi pada bulan pertama kehamilan maka risiko terjadinya kelainan adalah 50%, sedangkan jika infeksi tejadi trimester pertama maka risikonya menjadi 25% (menurut America College of Obstatrician and Gynecologists, 1981). Tanda tanda dan gejala infeksi Rubella sangat bervariasi untuk tiap individu, bahkan pada beberapa pasien tidak dikenali, terutama apabila ruam merah tidak tampak. Oleh Karena itu, diagnosis infeksi Rubella yang tepat perlu ditegakkan dengan bantuan pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan Laboratorium yang dilakukan meliputi pemeriksaan Anti-Rubella IgG dana IgM. Pemeriksaan Anti-rubella IgG dapat digunakan untuk mendeteksi adanya kekebalan pada saat sebelum hamil. Jika ternyata belum memiliki kekebalan, dianjurkan untuk divaksinasi. Pemeriksaan Anti-rubella IgG dan IgM terutama sangat berguna untuk diagnosis infeksi akut pada kehamilan < 18 minggu dan risiko infeksi rubella bawaan. CYTOMEGALOVIRUS (CMV) Infeksi CMV disebabkan oleh virus Cytomegalo, dan virus ini temasuk golongan virus keluarga Herpes. Seperti halnya keluarga herpes lainnya, virus CMV dapat tinggal secara laten dalam tubuh dan CMV merupakan salah satu penyebab infeksi yang berbahaya bagi janin bila infeksi yang berbahaya bagi janin bila infeksi terjadi saat ibu sedang hamil. Jika ibu hamil terinfeksi. maka janin yang dikandung mempunyai risiko tertular sehingga mengalami gangguan misalnya pembesaran hati, kuning, ekapuran otak, ketulian, retardasi mental, dan lain-lain. Pemeriksaan laboratorium sangat bermanfaat untuk mengetahui infeksi akut atau infeski berulang, dimana infeksi akut mempunyai risiko yang lebih tinggi. Pemeriksaan laboratorium yang silakukan meliputi Anti CMV IgG dan IgM, serta Aviditas Anti-CMV IgG. Aviditas anti-CMV IgG merupakan kekuatan ikatan antara anti-CMV IgG dengan Cytomegalovirus. Aviditas anti-Toxoplasma IgG merupakan kekuatan ikatan antara anti-Toxoplasma IgG dengan parasit Toxoplasma gondii. Pemeriksaan aviditas anti-CMV IgG diperlukan untuk memperkirakan kapan infeksi terjadi. Manfaat Pemeriksaan : Untuk membedakan infeksi CMV yang baru terjadi dan lampau (telah lama terjadi). HERPES SIMPLEKS TIPE II Infeksi herpes pada alat genital (kelamin) disebabkan oleh Virus Herpes Simpleks tipe II (HSV II). Virus ini dapat berada dalam bentuk laten, menjalar melalui serabut syaraf sensorik dan berdiam diganglion sistem syaraf otonom. Bayi yang dilahirkan dari ibu yang terinfeksi HSV II biasanya memperlihatkan lepuh pada kuli, tetapi hal ini tidak selalu muncul sehingga mungkin tidak diketahui. Infeksi HSV II pada bayi yang baru lahir dapat berakibat fatal (Pada lebih dari 50 kasus) Pemeriksaan laboratorium, yaitu Anti-HSV II IgG dan Igm sangat penting untuk mendeteksi secara dini terhadap kemungkinan terjadinya infeksi oleh HSV II dan mencaegah bahaya lebih lanjut pada bayi bila infeksi terjadi pada saat kehamilan. Infeksi TORCH yang terjadi pada ibu hamil dapt membahayakan janin yang dikandungnya. Pada infeksi TORCH, gejala klinis yang ada searing sulit dibedakan dari penyakit lain karena gejalanya tidak spesifik. Walaupun ada yang memberi gejala ini tidak muncul sehingga menyulitkan dokter untuk melakukan diagnosis. Oleh karena itu, pemeriksaan laboratorium sangat diperlukan untuk membantu mengetahui infeksi TORCH agar dokter dapat memberikan penanganan atau terapi yang tepat. Mencegah TORCH Mengingat bahaya dari TORCH untuk ibu hamil, bagi Anda yang sedang merencanakan kehamilan atau yang saat ini sedang hamil, dapat mempertimbangkan saran-saran berikut agar bayi Anda dapat terlahir dengan baik dan sempurna. Makan makanan bergizi Saat hamil, sebaiknya Anda mengkonsumsi banyak makanan bergizi. Selain baik untuk perkembangan janin, gizi yang cukup juga akan membuat tubuh tetap sehat dan kuat. Bila tubuh sehat, maka tubuh dapat melawan berbagai penyakit termasuk TORCH sehingga tidak akan menginfeksi tubuh. Lakukan pemeriksaan sebelum kehamilan Ada baiknya, Anda memeriksakan tubuh sebelum merencanakan kehamilan. Anda dapat memeriksa apakah dalam tubuh terdapat virus atau bakteri yang dapat menyebabkan infeksi TORCH. Jika Anda sudah terinfeksi, ikuti saran dokter untuk mengobatinya dan tunda kehamilan hingga benar-benar sembuh. Melakukan vaksinasi Vaksinasi bertujuan untuk mencegah masuknya parasit penyebab TORCH. Seperti vaksin rubela dapat dilakukan sebelum kehamilan. Hanya saja, Anda tidak boleh hamil dahulu sampai 2 bulan kemudian. Makan makanan yang matang Hindari memakan makanan tidak matang atau setengah matang. Virus atau parasit penyebab TORCH bisa terdapat pada makanan dan tidak akan mati apabila makanan tidak dimasak sampai matang. Untuk mencegah kemungkinan tersebut, selalu konsumsi makanan matang dalam keseharian Anda. Periksa kandungan secara terartur Selama masa kehamilan, pastikan juga agar Anda memeriksakan kandungan secara rutin dan teratur. Maksudnya adalah agar dapat dilakukan tindakan secepatnya apabila di dalam tubuh Anda ternyata terinfeksi TORCH. Penanganan yang cepat dapat membantu agar kondisi bayi tidak menjadi buruk. Jaga kebersihan tubuh Jaga higiene tubuh Anda. Prosedur higiene dasar, seperti mencuci tangan, sangatlah penting. Hindari kontak dengan penderita penyakit Seorang wanita hamil harus menghindari kontak dengan siapa pun yang menderita infeksi virus, seperti rubela, yang juga disebut campak Jerman. Dengan mencari lebih banyak informasi tentang kehamilan serta merawat dirinya sebelum dan selama masa kehamilan maupun dengan memikirkan masak-masak jauh di muka tentang berbagai aspek melahirkan, seorang wanita akan melakukan sebisa-bisanya untuk memastikan kehamilan yang lebih aman. Maka, bagi seorang wanita hamil, cobalah untuk selalu waspada terhadap berbagai penyakit seperti TORCH agar bayi Anda terlahir sehat.
Posted via Blogaway

Chlamydia trachomatis


Chlamydia trachomatis adalah bakteri yang dapat menyebabkan berbagai infeksi kelamin. Ada beberapa strain atau ‘jenis’, dan mereka dapat menyebabkan uretritis (radang selaput akhir bagian kemih) atau servisitis (radang leher rahim). Chlamydia juga dapat menyebabkan peradangan rektum dan testis, serta bagian dari organ reproduksi wanita seperti tuba falopi.
Ini adalah salah satu IMS yang paling umum di dunia.
Hal penting untuk dicatat adalah bahwa tidak semua infeksi dengan gejala
menghasilkan Chlamydia. Bahkan, banyak infeksi dewasa disebabkan oleh
bakteri ini tidak menunjukkan gejala, terutama pada wanita.
Organisme ini ditularkan secara seksual, yang berarti Anda dapat
menularkan infeksi ke pasangan seksual Anda, bahkan jika Anda merasa
baik. Hal ini juga dapat menyebabkan komplikasi dan bahkan dapat
menyebabkan infeksi panggul dan kemandulan pada wanita.
Skrining dianjurkan jika Anda sudah memiliki perubahan dalam pasangan
seksual, melakukan hubungan seksual tanpa kondom atau berhubungan seks
dengan orang-orang yang memiliki banyak pasangan seksual mereka.

Ada tes khusus untuk itu. Biasanya, tes PCR (polymerase chain reaction)
dianjurkan. Hal ini dapat diambil dari swab dari daerah yang terkena atau
melalui spesimen urin. Hasil biasanya siap dalam waktu seminggu dan hasil
positif menunjukkan perlunya untuk pengobatan serta skrining dan
pengobatan pasangan seksual. Tes darah biasanya tidak direkomendasikan
untuk infeksi tertentu.

Pengobatan yang efektif dengan antibiotik menyediakan obatnya. Obat-
obatan seperti azitromisin, doksisiklin atau eritromisin bisa digunakan.
Beberapa obat seperti azitromisin hanya memerlukan dosis tunggal,
sementara yang lain harus diambil selama 1 sampai 2 minggu. Jangan
melanjutkan aktivitas seksual sampai Anda telah menyelesaikan semua obat-
obatan, atau setidaknya selama seminggu setelah dosis tunggal azitromisin.

Jika Anda beresiko terinfeksi dengan Chlamydia, sangat penting untuk
memiliki pemeriksaan rutin, yang mencakup pemeriksaan fisik, dan yang akan
mencakup tes laboratorium.

Kebanyakan orang berasumsi bahwa mereka hanya perlu mencari bantuan
medis ketika mereka mulai mengembangkan gejala, seperti gatal, debit atau
ruam. Hal ini karena banyak yang tidak IMS mungkin
benar-benar menyebabkan gejala. Hal ini terutama bagi perempuan.
Gejala umum infeksi Chlamydia mungkin termasuk yang berikut:
Sensasi terbakar di daerah genital
Gatal di daerah genital
Discharge dari uretra atau vagina
Nyeri buang air besar

Gejala ini tidak perlu selalu menunjukkan adanya Chlamydia, namun,
perhatian medis harus dicari ketika mereka muncul, dan Anda harus
menghindari segala bentuk aktivitas seksual sampai penyebabnya telah
ditentukan.


Posted via Blogaway

Rabu, 19 Maret 2014

Pemeriksaan HPV-DNA


Merupakan pemeriksaan untuk mendeteksi adanya infeksi Virus Papiloma
Manusia atau Human Papilloma Virus (HPV). Infeksi HPV jenis High Risk,
merupakan penyebab utama kanker leher rahim. Dengan pemeriksaan HPV-DNA
maka dapat diperkirakan risiko terjadinya kanker leher rahim.
Pemeriksaan HPV-DNA diperlukan terutama bila hasil sitologi ada kelainan
tetapi tidak dapat disimpulkan apakah kelainan tersebut merupakan kelainan
pra-kanker atau bukan. Jadi, dengan pemeriksaan HPV-DNA dapat diperkirakan
apakah kelainan yang ditemukan akan berkembang menjadi kanker atau tidak
sehingga dapat dilakukan penanganan yang tepat.
Manfaat pemeriksaan HPV-DNA :
- Untuk menentukan apakah pasien dengan hasil sitologi inconclusive perlu
pemeriksaan lanjutan atau tidak
- Untuk skrining pada wanita berusia > 30 tahun bersama-sama dengan
pemeriksaan sitologi


Posted via Blogaway

Sabtu, 15 Maret 2014

Diagnosa Tuberculosis


TB dapat didiagnosa dengan beberapa cara-cara yang berbeda, termasuk X-
rays dada, analisa dahak, dan tes-tes kulit. Adakalanya, X-rays dada dapat
mengungkap bukti dari pneumonia tuberculosis yang aktif. Pada saat-sat yang
lain, X-rays mungkin menunjukan luka-luka parut (fibrosis) atau pengerasan
(kalsifikasi) pada paru-paru, menyarankan bahwa TB tertahan dan tidak aktif.
Pemeriksaan dahak pada slide (corengan) dibawah mikroskop dapat
menunjukan kehadiran dari bakteri yang mirip tuberculosis. Bakteri-bakteri dari
keluarga Mycobacterium, termasuk atypical mycobacteria, stain positive dengan
zat-zat pewarna khusus dan dirujuk sebagai acid-fast bacteria (AFB) . Sample
dari dahak juga biasanya diambil dan dibiakan pada inkubator-inkubator khusus
sehingga bakteri tuberculosis dapat sesudah itu diidentifikasi sebagai
tuberculosis atau atypical tuberculosis.

infeksi dengan tuberculosis telah terjadi baru-baru ini, bagaimanapun, tes
kulit dapat menjadi negatif palsu. Alasan untuk tes negatif palsu dengan infeksi
baru-baru ini adalah bahwa biasanya memakan waktu dua sampai 10 minggu
setelah waktu infeksi dengan tuberculosis sebelum tes kulit menjadi positif. Tes
kulit dapat juga menjadi negatif palsu jika sistim imun seseorang melemah atau
berkurang yang disebabkan oleh penyakit lain sepert AIDS atau kanker, atau
sedang meminum obat-obat yang menekan respon imun, seperti cortisone atau
obat-obat kanker.
Ingat, bagaimanapun, bahwa tes kulit TB tidak dapat menentukan apakah
penyakitnya aktif atau tidak. Penentuan ini memerlukan X-rays dada dan/atau
analisa dahak (corengan dan pembiakan) di laboratorium. Organisme dapat
mengambil waktu sampai enam minggu untuk tumbuh pada pembiakan pada
laboratorium mikrobiologi. Tes khusus untuk mendiagnosa TB disebut PCR
( polymerase chain reaction ) mendeteksi material genetik bakteri. Tes ini adalah
sangat sensitif (ia mendeteksi jumlah-jumlah yang sangat kecil dari bakteri)
dan spesifik (ia mendeteksi hanya bakteri TB). Seorang dapat biasanya
memperoleh hasil-hasil dari tes PCR dalam beberapa hari.


Posted via Blogaway

Jumat, 14 Maret 2014

Dengue RNA

Sampai saat Demam Berdarah Dengue ( DBD ) masih merupakan
masalah kesehatan, bersifat endemis dan timbul sepanjang tahun. Penyakit ini
walau banyak terjadi pada anak-anak, namun terdapat kecenderungan
peningkatan jumlah penderita dewasa serta menyebabkan morbiditas dan
mortalitas.
Diagnosis laboratoris DBD baik pada anak maupun dewasa belum
pernah dibedakan secara jelas, di mana masih memakai kriteria umum yaitu
isolasi virus dengan cara kultur, pemeriksaan serologis dengan mendeteksi
antibodi anti-dengue, maupun pemeriksaan asam nukleat dari RNA virus dengue
yang sekaligus dapat mendeteksi jenis serotipe virus dengue yang diperlukan
tidak saja untuk keperluan epidemiologi, namun salah satu faktor yang
kemungkinan dapat mengarah pada gradasi berat ringannya gejala infeksi virus
dengue.
Konsekuensinya, diperlukan pemahaman prosedur pemeriksaan yang
dapat dilakukan secara rutin maupun untuk penelitian, beserta interpretasi hasil
uji laboratorisnya. Pengertian mengenai kinetik replikasi virus dengue dan
respons terhadap host , demikian juga untuk pengumpulan dan penanganan
spesimen diperlukan untuk mengklarifikasi kekuatan dan kelemahan dari
berbagai uji/metode diagnosis infeksi virus dengue.
Diagnosis infeksi virus Dengue, selain dengan melihat gejala klinis, juga
dilakukan dengan pemeriksaan darah di laboratorium. Pada Demam Dengue
(DD), saat awal demam akan dijumpai jumlah leukosit (sel darah putih)
normal, kemudian menjadi leukopenia (sel darah putih yang menurun) selama
fase demam. Jumlah trombosit pada umumnya normal, demikian pula semua
faktor pembekuan, tetapi saat epidemi/wabah dapat dijumpai trombositopenia
(jumlah trombosit yang menurun ). Enzim hati dapat meningkat ringan. Pada
Demam Berdarah Dengue (DBD), pemeriksaan laboratorium menunjukkan
trombositopenia dan hemokonsentrasi. Pada kasus syok/SSD, selain ditemukan
hasil laboratorium seperti DBD di atas, juga terdapat kegagalan sirkulasi
ditandai dengan terjadi penurunan demam disertai keluarnya keringat, ujung
tangan dan kaki teraba dingin, nadi cepat atau bahkan melambat hingga tidak
teraba serta tekanan darah tidak terukur. Seringkali sesaat sebelum syok,
penderita mengeluh nyeri perut, beberapa tampak sangat lemah dan gelisah.
Dalam menegakkan diagnosis infeksi virus Dengue diperlukan pemeriksaan
untuk mendeteksi adanya antibodi spesifik terhadap virus Dengue di dalam
serum penderita baik berupa IgM antidengue maupun IgG antidengue.
Penting diketahui bahwa IgG antidengue bersifat diagnostik, dapat menjadi
parameter terjadinya dugaan infeksi dengue sekunder akut. Hal ini sesuai
dengan teori yang masih dianut sampai saat ini, yaitu teori heterologous
infection maupun ADE (Antibody Dependent Enhancement). Jadi IgG yang
terdeteksi dalam pemeriksaan laboratorium tidak menunjukkan adanya proteksi
atau sekedar infeksi virus dengue di masa lampau.
Diagnosis yang telah ditegakkan dengan pemeriksaan klinis dan laboratoris
(WHO,1997), ditunjang dengan pemeriksaan serologis adanya baik IgM anti
dengue ataupun IgG anti dengue yang idealnya diikuti kadarnya ( apabila
memungkinkan ), hal ini akan mempertajam diagnosis DBD. Pemeriksaan
lanjutan untuk mengetahui serotipe Den1,2,3,4 dari virus dengue saat ini banyak
dilakukan dengan metode molekuler yaitu nested RT-PCR ( Reverse
Transcriptase Polymerase Chain Reaction ). Untuk wabah DBD yang sekarang
merebak di Indonesia saat ini, idealnya pemeriksaan dilanjutkan tidak hanya
sampai serotipe namun untuk melihat subtipe, yang akhir-akhir ini diduga
sebagai strain baru.


Posted via Blogaway

Macam macam pemeriksaan feses

1. Pemeriksaan makroskopik tinja meliputi pemeriksaan
a. Jumlah
Dalam keadaan normal jumlah tinja berkisar antara 100-250gram per hari. Banyaknya tinja dipengaruhi jenis makanan bila banyak makan sayur jumlah tinja meningkat.
b. Konsistensi
Tinja normal mempunyai konsistensi agak lunak dan berbentuk. Pada diare konsistensi menjadi sangat lunak atau cair, sedangkan sebaliknya tinja yang keras atau skibala didapatkan pada konstipasi. Peragian karbohidrat dalam usus menghasilkan tinja yang lunak dan bercampur gas
c. Warna
Tinja normal kuning coklat dan warna ini dapat berubah mejadi lebih tua dengan terbentuknya Urobilin lebih banyak. Selain urobilin warna tinja dipengaruhi oleh berbagai jenis makanan, kelainan dalam saluran pencernaan dan obat yang dimakan. Warna kuning dapat disebabkan karena susu,jagung, lemak dan obat santonin. Tinja yang berwarna hijau dapat disebabkan oleh sayuran yang mengandung khlorofil atau pada bayi yang baru lahir disebabkan oleh biliverdin dan porphyrin dalam mekonium. Kelabu mungkin disebabkan karena tidak ada urobilinogen dalam saluran pencernaan yang didapat pada ikterus obstruktif, tinja tersebut disebut akholis. Keadaan tersebut mungkin didapat pada defisiensi enzim pankreas seperti pada steatorrhoe yang menyebabkan makanan mengandung banyak lemak yang tidak dapat dicerna dan juga setelah pemberian garam barium setelah pemeriksaan radiologik. Tinja yang berwarna merah muda dapat disebabkan oleh perdarahan yang segar dibagian distal, mungkin pula oleh makanan seperti bit atau tomat. Warna coklat mungkin disebabkan adanya perdarahan dibagian proksimal saluran pencernaan atau karena makanan seperti coklat, kopi dan lain-lain. Warna coklat tua disebabkan urobilin yang berlebihan seperti pada anemia hemolitik. Sedangkan warna hitam dapat disebabkan obat yang yang mengandung besi, arang atau bismuth dan mungkin juga oleh melena.
d. Bau
Indol, Skatol dan Asam butirat menyebabkan bau normal pada tinja. Bau busuk didapatkan jika dalam usus terjadi pembusukan protein yang tidak dicerna dan dirombak oleh kuman. Reaksi tinja menjadi lindi oleh pembusukan semacam itu. Tinja yang berbau tengik atau asam disebabkan oleh peragian gula yang tidak dicerna seperti pada diare. Reaksi tinja pada keadaan itu menjadi asam
e. Darah
Adanya darah dalam tinja dapat berwarna merah muda,coklat atau hitam. Darah itu mungkin terdapat di bagian luar tinja atau bercampur baur dengan tinja. Pada perdarahan proksimal saluran pencernaan darah akan bercampur dengan tinja dan warna menjadi hitam, ini disebut melena seperti pada tukak lambung atau varices dalam oesophagus. Sedangkan pada perdarahan di bagian distal saluran pencernaan darah terdapat di bagian luar tinja yang berwarna merah muda yang dijumpai pada hemoroid atau karsinoma rektum
f. Lendir
Dalam keadaan normal didapatkan sedikit sekali lendir dalam tinja. Terdapatnya lendir yang banyak berarti ada rangsangan atau radang pada dinding usus. Kalau lendir itu hanya didapat di bagian luar tinja, lokalisasi iritasi itu mungkin terletak pada usus besar. Sedangkan bila lendir bercampur baur dengan tinja mungkin sekali iritasi terjadi pada usus halus. Pada disentri, intususepsi dan ileokolitis bisa didapatkan lendir saja tanpa tinja.
g. Parasit
Diperiksa pula adanya cacing Ascaris, Anylostoma dan lain-lain yang mungkin didapatkan dalam tinja.

2.      PEMERIKSAAN MIKROSKOPIS
Pemeriksaan mikroskopik meliputi pemeriksaan protozoa, telur cacing, leukosit, eritosit, sel epitel, kristal dan sisa makanan. Dari semua pemeriksaan ini yang terpenting adalah pemeriksaan terhadap protozoa dan telur cacing
a. Protozoa
Biasanya didapati dalam bentuk kista, bila konsistensi tinja cair baru didapatkan bentuk trofozoit.
b. Telur cacing
Telur cacing yang mungkin didapat yaitu Ascaris lumbricoides, Necator americanus, Enterobius vermicularis, Trichuris trichiura, Strongyloides stercoralis dan sebagainya
c. Leukosit
Dalam keadaan normal dapat terlihat beberapa leukosit dalam seluruh sediaan. Pada disentri basiler, kolitis ulserosa dan peradangan didapatkan peningkatan jumlah leukosit.Eosinofil mungkin ditemukan pada bagian tinja yang berlendir pada penderita dengan alergi saluran pencenaan.
d. Eritrosit
Eritrosit hanya terlihat bila terdapat lesi dalam kolon, rektum atau anus. Sedangkan bila lokalisasi lebih proksimal eritrosit telah hancur. Adanya eritrosit dalam tinja selalu berarti abnormal.
f. Epitel
Dalam keadaan normal dapat ditemukan beberapa sel epitel yaitu yang berasal dari dinding usus bagian distal. Sel epitel yang berasal dari bagian proksimal jarang terlihat karena sel ini biasanya telah rusak. Jumlah sel epitel bertambah banyak kalau ada perangsangan atau peradangan dinding usus bagian distal
g. Kristal
Kristal dalam tinja tidak banyak artinya. Dalam tinja normal mungkin terlihat kristal tripel fosfat, kalsium oksalat dan asam lemak. Kristal Tripel Fosfat dan Kalsium Oksalat didapatkan setelah memakan bayam atau strawberi, sedangkan kristal asam lemak didapatkan setelah banyak makan lemak. Sebagai kelainan mungkin dijumpai kristal Charcoat Leyden Tinja Lugol Butir-butir amilum dan kristal hematoidin. Kristal Charcoat Leyden didapat pada ulkus saluran pencernaan seperti yang disebabkan amubiasis. Pada perdarahan saluran pencernaan mungkin didapatkan kristal hematoidin
h. Sisa makanan
Hampir selalu dapat ditemukan juga pada keadaan normal, tetapi dalam keadaan tertentu jumlahnya meningkat dan hal ini dihubungkan dengan keadaan abnormal.Sisa makanan sebagian berasal dari makanan daun-daunan dan sebagian lagi berasal dari hewan seperti serat otot, serat elastis dan lain-lain. Untuk identifikasi lebih lanjut emulsi tinja dicampur dengan larutan lugol untuk menunjukkan adanya amilum yang tidak sempurna dicerna. Larutan jenuh Sudan III atau IV dipakai untuk menunjukkan adanya lemak netral seperti pada steatorrhoe. Sisa makanan ini akan meningkat jumlahnya pada sindroma malabsorpsi.

3. PEMERIKSAAN KIMIA TINJA.
Pemeriksaan kimia tinja yang terpenting adalah pemeriksaan terhadap darah samar. Tes terhadap darah samar untuk mengetahui adanya perdarahan kecil yang tidak dapat dinyatakan secara makroskopik atau mikroskopik. Adanya darah dalam tinja selalu abnormal. Pemeriksaan darah samar dalam tinja dapat dilakukan dengan menggunakan tablet reagens. Tablet Reagens banyak dipengaruhi beberapa faktor terutama pengaruh makanan yang mempunyai aktifitas sebagai peroksidase sering menimbulkan reaksi positif palsu seperti daging, ikan sarden dan lain lain. Menurut kepustakaan, pisang dan preparat besi seperti Ferrofumarat dan Ferro Carbonat dapat menimbulkan reaksi positif palsu dengan tablet reagens. Maka dianjurkan untuk menghindari makanan tersebut diatas selama 3-4 hari sebelum dilakukan pemeriksaan darah samar.  Prinsip pemeriksaan ini hemoglobin yang bersifat sebagai peroksidase akan menceraikan hidrogen peroksida menjadi air dan 0 nascens (On). On akan mengoksidasi zat warna tertentu yang menimbulkan perubahan warna
CARA KERJA (Metode Benzidine Basa)
•      Buat emulsi tinja dengan air atau dengan larutan garam kurang lebih 10 ml kemudian panaskan hingga mendidih.
•      Saring emulsi dan biarkan filtrat smpai dingin kembali.
•      Masukkan benzidine basa 1 g.
•      Tambah 3 ml asam asetat ,kocok hingga larut.
•      Tambahkan 2ml filtrat emulsi tinja kemudian campur.
•      Tambahkan 1 ml larutan  Hydrogen Peroksida 3% campur, kemudian  hasil dibaca dalam waktu 5 menit .
Pemeriksaan bilirubin akan beraksi negatif pada tinja normal, karena bilirubin dalam usus akan berubah menjadi urobilinogen dan kemudian oleh udara akan teroksidasi menjadi urobilin. Reaksi mungkin menjadi positif pada diare dan pada keadaan yang menghalangi perubahan bilirubin menjadi urobilinogen, seperti pengobatan jangka panjang dengan antibiotik yang diberikan peroral, mungkin memusnakan flora usus yang menyelenggarakan perubahan tadi. Dalam tinja normal selalu ada urobilin. Jumlah urobilin akan berkurang pada ikterus obstruktif, jika obstruktif total hasil tes menjadi negatif, tinja berwarna kelabu disebut akholik. Penetapan kuantitatif urobilinogen dalam tinja memberikan hasil yang lebih baik jika dibandingkan terhadap tes urobilin, karena dapat menjelaskan dengan angka mutlak jumlah Urobilinogen yang diekskresilkan per 24 jam sehingga bermakna dalam keadaan seperti Anemia Hemolitik dan Ikterus Obstruktif.


Posted via Blogaway

Kamis, 13 Maret 2014

Pemeriksaan HCV genotipe

Pemeriksaan HCV genotipe merupakan pemeriksaan molekular untuk
mengetahui jenis virus (genotipe dan subgenotipe) yang menginfeksi. Dengan
mengetahui genotipe virus yang menginfeksi, maka akan sangat berguna untuk
menentukan lama terapi yang dibutuhkan.
pemeriksaan genotype virus hepatitis C untuk
mengetahui jenis virusnya. Genotype Vius Hepatitis C adalah genotype 1 hingga
6. Pentingnya pemeriksaan genotpe ini untuk menentukan lama terapi dan
perkiraan respon pengobatan. Genotype 1 dan 4 memerlukan waktu pengobatan
hingga satu tahun dan respon pengobatan lebih rendah, sedangkan genotype 2
dan 3 memerlukan waktu pengobatan 6 bulan dan respon pengobatan tinggi
(baik).


Posted via Blogaway

Anti-Nuclear Antibodies (ANA)

Anti-nuklir antibodi (juga dikenal sebagai anti-nuclear factor atau ANF) adalah autoantibodi yang mempunyai kemampuan mengikat pada struktur-struktur tertentu didalam inti (nukleus) dari sel-sel lekosit. ANA yang merupakan imunoglobulin (IgM, IgG, dan IgA) bereaksi dengan inti lekosit menyebabkan terbentuknya antibodi, yaitu anti-DNA dan anti-D-nukleoprotein (anti-DNP). Anti-DNA dan anti-DNP hampir selalu dijumpai pada penderita SLE. Temuan anti-DNA akan berfluktuasi bergantung pada proses penyakit ini, yang disertai dengan remisi dan eksaserbasi. Anti-DNA 95% dapat ditemukan pada penderita nefritis lupus.

Uji ANA merupakan skrining untuk lupus eritematosus sistemik (SLE) dan penyakit kolagen lainnya. Kadar total ANA juga dapat meningkat pada penyakit skleroderma, rheumatoid arthritis, sirosis, leukemia, mononukleosis infeksiosa, dan malignansi. Untuk mendiagnosis lupus, temuan uji ANA harus dibandingkan dengan hasil uji lupus lainnya.

Masalah Klinis

ANA ditemukan pada pasien dengan sejumlah penyakit autoimun, seperti SLE (penyebab tersering), sklerosis sistemik progresif (PSS), sindrom Sjörgen, sindrom CREST, rheumatoid arthritis, skleroderma, mononukleosis infeksiosa, polymyositis, 's tiroiditis Hashimoto, juvenile diabetes mellitus, penyakit Addison, vitiligo, anemia pernisiosa, glomerulonefritis, dan fibrosis paru.

ANA juga dapat ditemukan pada pasien dengan kondisi yang tidak dianggap sebagai penyakit autoimun klasik, seperti infeksi kronis (virus, bakteri), penyakit paru (fibrosis paru primer, hipertensi paru), penyakit gastrointestinal (kolitis ulseratif, penyakit Crohn, sirosis bilier primer, penyakit hati alkoholik), kanker (melanoma, payudara, paru-paru, ginjal, ovarium dan lain-lain), penyakit darah (idiopatik trombositopenik purpura, anemia hemolitik), penyakit kulit (psoriasis, pemphigus), serta orang tua dan orang-orang dengan keluarga dengan riwayat penyakit reumatik.

Banyak obat yang bisa merangsang produksi ANA, seperti prokainamid (Procan SR), antihipertensi (hidralazin), dilantin, antibiotik (penisilin, streptomisin, tetrasiklin), metildopa, anti-TB (asam p-aminosalisilat, isoniazid), diuretik (asetazolamid, tiazid), kontrasepsi oral, trimetadion, fenitoin. ANA yang dipicu oleh obat-obatan disebut sebagai drug-induced ANA.


Posted via Blogaway

Selasa, 11 Maret 2014

Fungsi Pemeriksaan HCV RNA

Pengobatan Hepatitis C ditujukan untuk menghilangkan virus hepatitis C dari
darah yang pada akhirnya dapat mencegah terjadinya penurunan fungsi liver
yakni sirosis hati dan kanker hati.
Diagnosis hepatitis C ini dengan mendeteksi anti virus hepatitis C (anti HCV) di
dalam darah. Bila pada hasil pemeriksaan didapatkan anti HCV positif, maka
perlu dilanjutkan dengan pemeriksaan HCV-RNA kuantitatif dan genotype virus
hepatitis C. HCV-RNA kuantitatif adalah pemeriksaan untk mengetahui jumlah
virus di dalam darah sedangkan
Pemeriksaan HCV-RNA kualitatif merupakan pemeriksaan molekular yang
digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya virus hepatitis C.
Manfaat Pemeriksaan
a) Mendeteksi virus hepatitis C
b) Apabila hasil pemeriksaan anti-HCV positif, dilanjutkan dengan pemeriksaan HCV-RNA kualitatif sebagai konfirmasi adanya infeksi aktif
c) Menentukan sustained viral response (SVR) atau kesembuhan pasien yang telah diterapi anti-virus (pemeriksaan dilakukan ketika 6 bulan setelah selesai terapi).


Posted via Blogaway

Senin, 10 Maret 2014

HBV DNA

HBV DNA adalah tes yang lebih sensitif dibandingkan dengan
HBeAg untuk mendeteksi virus di dalam aliran darah. Biasanya
digunakan sebagai pemantauan terapi antiviral pada pasien
dengan infeksi HBV kronis.
Pemeriksaan HBV-DNA (PCR) merupakan pemeriksaan dengan menggunakan
teknologi amplifikasi asam nukleat virus untuk mengetahui ada atau tidaknya
DNA virus hepatitis B.
HBV DNA: Hasil positif atau reaktif mengindikasikan
adanya virus yang mampu menyebar pada orang lain.
Hasil negatif menunjukkan biasanya virus tidak dapat
menyebar ke orang lain, terutama jika tes dapat
mengambil sedikitnya 200 virus (cetakan) dalam satu mL
darah yang digunakan.


Posted via Blogaway

Minggu, 09 Maret 2014

Anticardiolipin Antibodies atau ACA

Anticardiolipin Antibodies atau ACA adalah antibodi antifosfolipid yang berperan
dalam progresi aterosklerosis dan trombosis, serta berkaitan dengan terjadinya
keguguran berulang, stroke dan komplikasi vaskular lainnya. Pemeriksaan
Anticardioliphin Antibodies atau ACA berguna untuk mengetahui tingkat
kekentalan darah seseorang, dan biasanya sangat disarankan bagi wanita hamil
atau berencana hamil terutama yang memiliki riwayat keguguran pada awal
kehamilan. Terdapat 3 kelas ACA yang dapat diperiksa yaitu IgA , IgG, dan IgM .
Konsentrasi ACA IgA berkaitan erat dengan terjadinya trombosis vena.
Manfaat Pemeriksaan : Diagnosa trombosis berulang yang berbeda, sindrom lupus, postif palsu VDRL/ RPR, keguguran berulang, dan yang jarang terjadi adalah perdarahan parah.


Posted via Blogaway

Sabtu, 08 Maret 2014

Pengukuran D-dimer


D-Dimer adalah suatu fragmen degradasi fibrin yang dihasilkan setelah
berlangsung fibrinolisis. Dinamakan demikian karena mengandung dua fragmen
silang D protein fibrin. Kadar D-dimer digunakan untuk membantu
mendiagnosis trombosis. Sejak diperkenalkan pada tahun 1990-an, ia telah
menjadi tes penting yang dilakukan pada pasien yang diduga terdapat gangguan
trombotik.
Bila vena atau arteri yang terluka dan darah mulai bocor, maka faktor-faktor
pembekuan diaktifkan dalam urutan langkah-langkah pembekuan (disebut
kaskade koagulasi) untuk membatasi pendarahan dan menciptakan gumpalan
yang menyumbat luka. Gumpalan tersebut adalah benang protein yang disebut
fibrin.
Setelah memiliki waktu untuk menyembuhkan daerah cedera tersebut, tubuh
menggunakan protein yang disebut plasmin untuk memecahkan gumpalan
(thrombus) menjadi bagian-bagian kecil sehingga dapat dibersihkan. Proses
tersebut dinamakan fibrinolisis yang menghasilkan fragmen-fragmen yang
disebut produk degradasi fibrin ( fibrin degradation product, FDP ). Salah satu
produk degradasi fibrin tersebut adalah D-dimer. Pengukuran D-dimer dapat
memberitahu bahwa telah terjadi proses yang abnormal pada mekanisme
pembekuan darah.
Pengukuran D-Dimer diindikasikan apabila ada dugaan trombosis vena dalam
( deep vein trombosis, DVT ), emboli paru ( pulmonary embolus/embolism, PE ),
pembekuan intravaskuler menyeluruh ( disseminated intravascular coagulation,
DIC), arterial thromboemboli, infark myocard, dll


Posted via Blogaway

Natrium adalah kation Na

Natrium adalah kation Na utama cairan ekstrasel dan sebagian besar
berhubungan dengan klorida dan bikarbonat dalam pengaturan asam-basa. Na
penting dalam mem-pertahankan tekanan osmotik cairan tubuh. Pada individu
yang peka, terdapat hubungan jelas antara intake Na dengan tekanan darah
diastolik. Jadi NaCl dapat memperhebat hipertensi yang telah ada.
Sumber utama dalam makanan adalah pada garam dapur (NaCl).
Metabolisme
Diserap oleh ileum, diekskresi melalui urin. Ginjal mampu menghemat Na
dengan membuang K atau H . Apabila diperlukan intake air lebih dari 4 l/hari
untuk mengganti keringat yang hilang, maka harus diberi Na Cl ekstra. Kontak
terus menerus dengan suhu tinggi dengan berkeringat berlebihan, kehilangan Na
dalam keringat akan dijurangi oleh proses adaptasi yang mengikut sertakan
aldosteron. Pada penyakit ginjal, kemampuan menghemat Na seringkali hilang,
dan terjadi gangguan keseimbangan natrium, klorida, kalium dan air yang parah
Pemeriksaan natrium (Na) berguna untuk mengetahui konsentrasi Na (elekrolit
dan mineral) di dalam darah. Natrium berfungsi untuk menjaga keseimbangan
air (sejumlah cairan di dalam maupun di luar sel tubuh) dan elektrolit di dalam
tubuh, mengontrol tekanan darah, serta berperan penting dalam fungsi kerja
saraf dan otot. Konsentrasi Na banyak terdapat di dalam darah dan cairan
limfa. Keabnormalan Na dalam darah mengindikasikan adanya gangguan
kesehatan. Biasanya pemeriksaan ini dilakukan bersamaan dengan pemeriksaan
elektrolit darah yang lain seperti kalium (K), klorida (Cl), kalsium (Ca), dan
magnesium (Mg).
Manfaat Pemeriksaan : Menilai keseimbangan elektrolit tubuh dan asam basa, dehidrasi, sindrom nefrotik, gagal jantung kongestif, dan keadaan klinis lainnya.


Posted via Blogaway

Kamis, 06 Maret 2014

Masa Tromboplastin Parsial Teraktivasi (activated parsial thromboplastin time APTT)

Pemeriksaan ini digunakan untuk menguji pembekuan darah
melaui jalur intrinsik dan jalur bersama yaitu faktor pembekuan
XII, prekalikrein, kininogen, XI, IX, VIII, X, V, protombin dan
fibrinogen.
       Prinsip pemeriksaan ini adalah mengukur lamanya terbentuk
bekuan bila ke dalam plasma ditambahkan reagens
tromboplastin parsial dan aktivator serta ion kalsium pada suhu
37 derajat C. reagen tromboplastin parsial adalah fosfolipid sebagai
pengganti platelet factor 3.
Nilai normal tergantung dari reagens, cara pemeriksaan dan
alat yang dipakai. Juga dianjurkan agar tiap laboratorium
menentukan nilai normalnya sendiri. Hasilnya memanjang bila
terdapat kekurangan faktor pembekuan dijalur intrinsik dan
bersama atau bila terdapat inhibitor. Sama seperti PT, untuk
membedakan hal ini dilakukan pemeriksaan ulang
Bila hasilnya tetap memanjang, berarti ada
inhibitor. Pada hemofilia A maupun hemofilia B, APTT akan
memanjang, tetapi pemeriksaan ini tidak dapat membedakan
kedua kelainan tersebut.
Pemeriksaan ini juga dipakai untuk memnatau pemberian
heparin.


Posted via Blogaway

Rabu, 05 Maret 2014

Masa Protrombin Plasma (protrombin time PT)


Pemeriksaan ini digunakan untuk menguji pembekuan darah
melalui jalur ekstrinsik dan jalur bersama yaitu faktor
pembekuan VII, X, V, protrombin dan fibrinogen. Selain itu juga
dapat dipakai untuk memantau efek antikoagulan oral karena
golongan obat tersebut menghambat pembentukan faktor
pembekuan protrombin, VII, IX, dan X.
Prinsip pemeriksaan ini adalah mengukur lamanya terbentuk
bekuan bila ke dalam plasma yang diinkubasi pada suhu 37ºC,
ditambahkan reagens tromboplastin jaringan dan ion kalsium.
Hasil pemeriksaan ini dipengaruhi oleh kepekaan
tromboplastin yangh dipakai oleh teknik pemeriksaan.
Nilai normal tergantung dari reagen, cara pemeriksaan dan
alat, dan alat yang digunakan. Sebaiknya tiap laboratorium
mempunyai nilai normal yang ditetapkan sendiri dan berlaku
untuk laboratorium tersebut.
Jika hasil PT memanjang maka penyebabnya mungkin
kekurangan faktor-faktor pembekuan di jalur ekstrinsik dan
bersama atau adnya inhibitor. Untuk membedakan hal ini,
pemeriksaan diulang sekali lagi dengan menggunakan campuran
plasma penderita dan plasma kiontrol dengan perbandingan 1:1.
Bila ada inhibitor, masa protombin plasma tetap memanjang.
Selain dilaporkan dalam detik, hasil PT juga dilaporkan dalam
rasio, aktivitas protombin dan indeks. Rasio yaitu perbandingan
antara PT penderita dengan PT kontrol. Aktivitas protombin
dapat ditentukan dengan menentukan dengan menggunakan
kurva standart dan dinyatakan dalam %.
Pemeriksaan PT juga sering dipakai untuk memantau efek
pemberian antikoagulan oral. Pemberian kepekaan reagen
tromboplastin yang dipakai dan perbedaan cara pelaporan
menimbulkan kesulitan bila pemantauan dikerjakan di
laboratorium yang berbeda-beda. Untuk mengatasi masalah
tersebut ICTH (International Comittee on Thrombosis and
Haemostasis) dan ICSH (International Comitte for
Standardization in Haematology) menganjurkan agar
tromboplastin jaringan yang akan digunakan harus dikalibrasi
terlebih dahulu terhadap tromboplastin rujukan untuk
mendapatkan ISI (International Sensitivity Index). Juga
dianjurkan agar hasil pemeriksaan PT dilaporkansecara seragam
dengan menggunakan INR (International Normalized Ratio), yaitu
rasio yang dipangkatkan dengan ISI dari reagens tromboplastin
yang digunakan.


Posted via Blogaway

Selasa, 04 Maret 2014

Masa Trombin (thrombin time TT)


Pemeriksaan ini digunakan untuk menguji perubahan
fibrinogen menjadi fibrin. Prinsip pemeriksaan ini adalah
mengukur lamanya terbentuk bekuan pada suhu 37°C bila ke
dalam plasma ditambahkan reagens thrombin.
Nilai normal tergantung dari kadar thrombin yang dipakai.
Hasil TT dipengaruhi oleh kadar dan fungsi fibrinogen serta ada
tidaknya inhibitor. Hasilnya memanjang bila kadar fibrinogen
kurang dari 100 mg/dl atau fungsi fibrinogen abnormal atau bila
terdapat inhibitor thrombin seperti heparin atau FDP (Fibrinogen
degradation product).
Bila TT memanjang, pemeriksaan diulang sekali lagi dengan
menggunakan campuran plasma penderita dan plasma control
dengan perbandingan 1:1 untuk mengetahui adanya tidaknya
inhibitor.
       Untuk membedakan apakah TT yang memanjang karena
adanya heparin, fibrinogen abnormal atau FDP, dilakukan
pemeriksaan masa reptilase. Reptilase berasal dari bisa
ular Aneistrodon Rhodostoma. Apabila TT yang memanjang
disebabkan oleh heparin maka masa reptilase akan memberikan
hasil normal, sedangkan fibrinogen abnormal atau FDP akan
menyebabkan masa reptilase memanjang.


Posted via Blogaway

Senin, 03 Maret 2014

Apakah Faal Hemostasis ?

Hemostasis adalah mekanisme untuk menghentikan dan mencegah perdarahan. Bilamana terdapat luka pada pembuluh darah, segara akan terjadi vasokonstriksi pembuluh darah sehingga aliran darah ke pembuluh darah yang terluka berkurang. Kemudian trombosit akan berkumpul dan melekat pada bagian pembuluh darah yang terluka untuk membentuk sumbat trombosit. Faktor pembekuan darah yang diaktifkan akan membentuk benang-benang fibrin yang akan membuat sumbat trombosit menjadi non permeabel sehingga perdarahan dapatdihentikan.
       Jadi dalam proses hemosatasis terjadi 3 reaksi yaitu reaksi vascular berupa vasokontriksi pembuluh darah, reaksi selular yaitu pembentukan sumbat trombosit, dan reaksi biokimiawi yaitu pembentukan fibrin. Faktor-faktor yang memegang peranan dalam proses hemostasis adalah pembuluh darah, trombosit, dan faktor pembekuan darah. Selain itu faktor lain yang juga mempengaruhi hemostasis adalah faktor ekstravascular, yaitu jaringan ikat disekitar pembuluh darah dan keadaan otot.
Pedarahan mungkin diakibatkan oleh kelainan pembuluh darah, trombosit, ataupun sistem pembekuan darah. Bila gejala perdarahan merupakan kalainan bawaan, hampir selalu penyebabnya adalah salah satu dari ketiga faktor tersebut diatas kecuali penyakit Von Willebrand. Sedangkan pada kelainan perdarahan yang didapat, penyebabnya mungkin bersifat multipel. Oleh karena itu pemeriksaan penyaring hemostasis
harus meliputi pemeriksaan vasculer, treombosit, dan koagulasi. Biasanya pemeriksaan hemostasis dilakukan sebelum operasi. Beberapa klinisi membutuhkan pemerikasaan
hemostasis untuk semua penderita pre operasi, tetapi ada juga membatasi hanya pada penderita dengan gangguan hemostasis. Yang paling penting adalah anamnesis riwayat perdarahan. Walaupun hasil pemeriksaan penyaring normal, pemeriksaan
hemostasis yang lengkap perlu dikerjakan jika ada riwayat perdarahan.
       Pemeriksaan faal hemosatasis adalah suatu pemeriksaan yang bertujuan untuk mengetahui faal hemostatis serta kelainan yang terjadi. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mencari riwayat perdarahan abnormal, mencari kelainan yang mengganggu faal
hemostatis, riwayat pemakaian obat, riwayat perdarahan dalam keluarga. Pemeriksaan faal hemostatis sangat penting dalam mendiagnosis diatesis hemoragik. Pemeriksaan ini terdiri atas:
Tes penyaring meliputi :
1. Percobaan pembendungan
2. Masa perdarahan
3. Hitung trombosit
4. Masa protombin plasma (Prothrombin Time, PT)
5. Masa tromboplastin partial teraktivasi (Activated partial thromboplastin time, APTT)
6. Masa trombin (Thrombin time, TT)


Posted via Blogaway

Minggu, 02 Maret 2014

Pemeriksaan Anti-Hbe

Pemeriksaan Anti-Hbe dapat menggambarkan integrasi DNA virus Hepatitis B
(HBV) ke DNA host dan hilangnya kemampuan membentuk virus yang
bereplikasi.Anti-Hbe adalah suatu pertanda infektivitas relatif yang rendah. Munculnya
anti-HBe merupakan bukti kuat bahwa pasien akan sembuh dengan baik.Bila terdapat anti-HBe, hal ini mengindikasikan bahwa telah terjadi pemulihan dan imunitas terhadap infeksi HBV.


Posted via Blogaway

Macam - macam jenis Anemia

Anemia atau yang lebih dikenal di masyarakaat sebagai
berkurangnya jumlah sel darah merah atau jumlah sel
hemoglobin dalam sel darah merah yang mengakibatkan darah
tidak mampu membawa oksigen dalam jumlah yang cukup sesuai
dengan kebutuhan tubuh.

Anemia yang merupakan suatu kondisi dimana kadar
hemoglobin atau berkurangnya jumlah eritrosit dalam 1 mm3
(satu milimeter kubik) darah atau kurangnya volume sel darah
merahyang memadati dalam 100 ml darah (darah kurang dari
ukuran normal).

Pemeriksaan Panel Anemia Defisiensi
Jenis Pemeriksaan Hematologi Rutin, Besi, TIBC, Ferritin, Vitamin
B12, Asam Folat, Gambaran Darah Tepi, Manfaat Mendiagnosis
penyakit anemia defisiensi akibat kekurangan produksi sel darah
merah yang disebabkan oleh beberapa faktor seperti kekurangan
zat besi, vitamin B12, dan asam folat serta kerusakan sumsum
tulang; mengevaluasi derajat anemia.( next Anemia Hemolitik )

Pemeriksaan Panel Anemia Hemolitik
Jenis Pemeriksaan Hematologi Rutin, Retikulosit, Bilirubin Total/
Direk, G6PD, Haptoglobin, Analisa Hb (HPLC), Coombs' Test,
Gambaran Darah Tepi
Manfaat Mendeteksi kemungkinan terjadinya proses hemolitik
dan mendiagnosis penyakit anemia hemolitik yaitu penyakit
anemia atau kekurangan sel darah merah akibat sel darah merah
cepat rusak, lebih cepat dari kapasitas produksinya di sumsum
tulang.

Pemeriksaan Panel Anemia Aplastik
Jenis Pemeriksaan Hematologi Rutin, Leukosit, Trombosit,
Retikulosit, Gambaran Sumsum Tulang,Manfaat Memastikan
diagnosis penyakit anemia aplastik (hipoplastik) yaitu
kekurangan sel darah merah karena kelainan sumsum tulang
sehingga kemampuan sumsum tulang untuk memproduksi sel
darah merah terganggu atau berkurang. Kelainan sumsum tulang
ini dapat terjadi karena faktor keturunan, radiasi,lingkungan
dan lain-lain; mengevaluasi derajat anemia.


Posted via Blogaway

Sabtu, 01 Maret 2014

Deteksi anemia dengan pemeriksaan retikulosit

Retikulosit adalah eritrosit muda yang sitoplasmanya masih mengandung sejumlah
besar sisa-sisa ribosome dan RNA yang berasal dari sisa inti dari bentuk penuh pendahulunya.
Ribosome mempunyai kemampuan untuk bereaksi dengan pewarna tertentu seperti brilliant cresyl blue atau new methylene blue untuk membentuk endapan granula atau filamen yang berwarna biru. Reaksi ini hanya terjadi pada pewarnaan
terhadap sel yang masih hidup dan tidak difiksasi. Oleh karena itu disebut pewarnaan supravital. Retikulosit paling muda (imatur) adalah yang mengandung ribosome terbanyak, sebaliknya retikulosit tertua hanya mempunyai beberapa titik ribosome.
Pada pewarnaan Wright retikulosit tampak sebagai eritrosit yang berukuran
lebih besar dan berwarna lebih biru daripada eritrosit. Retikulum terlihat sebagai bintik-bintik abnormal. Polikromatofilia yang menunjukkan warna kebiru-biruan dan bintik-bintik basofil pada eritrosit, sebenarnya disebabkan oleh bahan ribosome tersebut.
Hitung retikulosit merupakan indikator aktivitas sumsum tulang dan digunakan
untuk mendiagnosis anemia. Banyaknya retikulosit dalam darah tepi menggambarkan eritropoesis yang hampir akurat. Peningkatan jumlah retikulosit di darah tepi menggambarkan akselerasi produksi eritrosit dalam sumsum tulang. Sebaliknya, hitung retikulosit yang rendah terus-menerus dapat mengindikasikan keadan hipofungsi sumsum tulang atau anemia aplastik


Posted via Blogaway